• Purim

    Purim adalah Hari Raya yang penuh Kebahagiaan dan Sukacita

  • Pesach atau Paskah

    Paskah 2022 akan dirayakan dari 15 April - 23 April

  • Pesach atau Paskah

    Pesach berarti Melewati ketika Tuhan melewati rumah Yahudi di Mesir ketika membunuh anak Sulung di Mesir

  • Pesach atau Paskah

    Pesach dibagi menjadi dua Hari Raya itu sendiri di awal dan akhir dan hari perantara yang disebut Chol Hamoed

  • Pesach atau Paskah

    Pesach juga berarti tidak ada Chametz di rumah kita

Melakah Choresh (Membajak) - Sabat Melakah

בס״ד

 Melakah Membajak (Chores)



Sebelum kita mempelajari apa itu Melakah Membajak, saya akan berusaha menjelaskan tentang Av Melakah dan Toldot Melakah. Dalam hukum Yahudi (Halakha), khususnya terkait hukum-hukum Sabat (Shabbat), "Av Melakot" (bentuk jamak: "Avot Melachot") dan "Toldot" (bentuk jamak: "Toldot") merupakan kerangka struktural untuk memahami jenis-jenis "pekerjaan" atau aktivitas kreatif yang dilarang pada hari Sabat.

1. Av Melakah (Kategori "Induk" atau Kategori Utama)

Av Melakhah (secara harfiah berarti "Induk Pekerjaan") adalah kategori utama dari pekerjaan yang dilarang, yang bersumber langsung dari Taurat.
• Asal-usul: Talmud menjelaskan bahwa definisi "pekerjaan" pada hari Sabat didasarkan pada tindakan-tindakan yang diperlukan untuk membangun dan memelihara Mishkan (Kemah Suci portabel di padang gurun). Karena Taurat menempatkan instruksi mengenai Sabat tepat di sebelah instruksi pembangunan Kemah Suci, Rabi bijak kita dimasa lampau menyimpulkan bahwa segala tindakan kreatif yang diperlukan untuk membangun Kemah Suci tersebut dianggap sebagai pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat.

2. Toldot (atau "Keturunan" atau Subkategori)

Toldah (secara harfiah berarti "Keturunan" atau "Turunan") adalah kategori pekerjaan sekunder yang secara fisik atau konseptual serupa dengan "Av Melakah".
• Konsep: "Toldah" adalah tindakan yang menghasilkan keluaran fungsional yang persis sama atau menggunakan mekanisme yang sama dengan "Av Melakah" utama, meskipun tindakan tersebut bukan merupakan tindakan yang persis sama dengan yang dilakukan di Kemah Suci (Tabernakel).
• Bobot: Sangat penting untuk dicatat bahwa menurut hukum Alkitab, "Toldah" memiliki tingkat pelanggaran yang sama beratnya dengan "Av Melakah". Melanggar ketentuan "Toldah" dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap hukum Sabat yang bersumber dari Alkitab, bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan pencegahan yang ditetapkan oleh para Rabi.


  • Av Melakah Membajak (Choresh) : Membalik atau melunakkan tanah dengan pisau, cangkul, traktor, bahkan membajak dengan sapi atau alat sejenisnya.
  • Toldot : 1. Menggali Lubang

Seseorang yang menggali lubang—misalnya untuk menyembunyikan emas atau permata—tidak dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran hukum Taurat terkait aktivitas konstruksi (melakah membangun), karena tujuannya bukan membuat lubang itu sendiri, melainkan memanfaatkan tanah galiannya. Jika penggalian dilakukan dengan cara yang merusak, semua pihak sepakat bahwa ia tidak bertanggung jawab atas pelanggaran hukum Taurat, karena tindakan yang bersifat merusak tidak termasuk dalam kategori pelanggaran hukum Taurat tersebut. Namun, tindakan ini tetap melanggar ketentuan para Rabi. Bahkan jika penggalian dilakukan di lokasi yang tidak merusak tanah sama sekali, sebagian besar ahli hukum Yahudi (Poskim) berpendapat bahwa tindakan tersebut tidak melanggar hukum Taurat, tapi melanggar hukum Rabi.


2. Menyeret benda berat di atas tanah

                                                         foto diambil dari buku Good Shabbos oleh Y.Davidson



Seseorang yang bermaksud membuat alur di tanah ladang bertanggung jawab atas melakah membajak, sedangkan seseorang yang sengaja membuat alur di lantai tanah rumah bertanggung jawab atas melachah membangun. Meskipun demikian, diperbolehkan menyeret tempat tidur, kursi, atau bangku, baik besar maupun kecil, di tanah, selama seseorang tidak bermaksud membuat alur di tanah. Ia tidak perlu khawatir jika hal itu menyebabkan alur di tanah, karena itu tidak disengaja. Taurat hanya melarang melachah yang dilakukan dengan sengaja, bukan akibat yang tidak disengaja dari tindakan seseorang. [Bahkan ketika benda yang dimaksud sangat berat, seseorang boleh menyeretnya di tanah selama niatnya bukan untuk membuat alur. Meskipun dilarang melakukan tindakan yang diperbolehkan yang hasil tak terhindarkannya adalah melakah terlarang (pesik reisha = suatu tindakan yang dilakukan untuk tujuan yang diperbolehkan namun pasti menimbulkan efek samping terlarang yang tidak diinginkan.) bahkan ketika hasil ini bukan niat seseorang dalam melakukan tindakan tersebut, dalam kasus ini, membuat alur saat menyeret benda mungkin tidak dapat dihindari, karena tanah mungkin terlalu keras.]  Jika demikian, ini adalah kasus pesik reisha yang tidak pasti dan adalah diijinkan. Terlebih lagi, meskipun menyeret benda tersebut pasti akan menimbulkan bekas alur, masih ada celah yang membolehkan tindakan ini. Pertama, pembuatan alur tersebut dilakukan dengan cara yang tidak lazim (ke'leahar yad = melakukan suatu melakah dengan cara yang tidak lazim atau berbelit-belit, sering kali untuk menghindari pelanggaran aturan ketat pada hari Sabat). Selain itu, alur yang terbentuk akibat menyeret benda berat di atas tanah pada umumnya dianggap merusak permukaan tanah tersebut. Dengan demikian, pembuatan alur itu dilakukan dengan cara yang bersifat merusak (mekalkel = mengacu pada tindakan destruktif yang dilakukan pada hari Sabat.). Oleh karena itu, kombinasi faktor-faktor ini menjadikannya kasus pesik reisha yang menghasilkan akibat yang tidak diinginkan, yang dilakukan dengan cara yang hanya dilarang menurut hukum kerabian—bahkan pelarangannya menjadi lebih lemah lagi karena sifatnya yang sekaligus mekalkel dan ke'leahar yad (di mana masing-masing faktor tersebut saja sudah cukup untuk menurunkan status larangan dari hukum Taurat menjadi sekadar larangan kerabian). Maka dari itu, tindakan ini diperbolehkan. Hal ini semakin berlaku jika seseorang menyeret benda tersebut di lahan umum atau di lahan pribadi milik orang lain; dalam situasi demikian, kita dapat berasumsi bahwa pemilik lahan tidak akan senang dengan adanya alur yang terbentuk di lahan mereka.


3. Mendorong kereta bayi di permukaan tanah yang tidak beraspal


Oleh karena itu, diperbolehkan mendorong kereta bayi atau stroller di atas pasir atau tanah yang tidak beraspal di reshut ha'rabbim(=ranah publik menurut hukum Yahudi (halakha), yang terutama didefinisikan dalam hukum seputar Sabat dan hukum perbuatan melawan hukum) [di mana terdapat eruv yang dapat diandalkan]. Ini berlaku bahkan untuk stroller ganda yang berat. Sekalipun stroller diputar ke arah yang berbeda dari waktu ke waktu, yang pasti akan menciptakan alur di tanah, hal itu tetap diperbolehkan. Faktor lain yang memungkinkan mendorong stroller di jalan tanah, bahkan dengan cara yang pasti akan menciptakan alur di tanah, adalah bahwa roda tidak menggali tanah, melainkan menekannya ke bawah. Hal ini sama sekali tidak dianggap sebagai melakah. Demikian pula, diperbolehkan mendorong seseorang yang menggunakan kursi roda di jalan tanah atau berpasir.

4. Menyapu rumah atau halaman


Dilarang menyapu permukaan tanah dengan sapu pada hari Sabat. Larangan ini ditetapkan karena adanya kekhawatiran bahwa seseorang mungkin meratakan cekungan atau lubang di tanah. Tindakan demikian di ladang melanggar larangan melachah membajak tanah, sedangkan tindakan serupa di dalam ruangan melanggar larangan melachah membangun. Larangan ini hanya berlaku untuk permukaan tanah yang tidak dilapisi lantai (tanah alami). Sebaliknya, diperbolehkan menyapu lantai rumah (kecuali jika lantainya berupa tanah) atau halaman yang sudah dilapisi paving dengan sapu. [Ini adalah pendapat Maran dalam Shulhan Aruch. Di sisi lain, Rema berpendapat bahwa menyapu rumah yang berlantai pun dilarang. Hal ini dikarenakan pada masa lampau, banyak rumah memiliki lantai tanah. Dengan demikian, muncul kekhawatiran bahwa jika menyapu lantai rumah yang bukan tanah diperbolehkan, orang-orang mungkin akan turut menyapu lantai tanah. Namun, pada masa kini ketika semua rumah memiliki lantai keramik, bahkan Rema pun akan berpendapat bahwa seseorang boleh menyapu lantai pada hari Sabat. Terlebih lagi, ada kemungkinan Rema akan mengizinkan penyapuan halaman yang sudah dilapisi paving/semen. Beliau mungkin setuju bahwa tidak ada alasan untuk melarang hal tersebut hanya karena kekhawatiran orang akan menyapu halaman tanah, mengingat halaman yang dilapisi semen dapat dipandang sebagai perluasan dari rumah itu sendiri, meskipun tidak beratap.

5. Meminta Non-Yahudi untuk menyapu lantai tanah

Diperbolehkan meminta non-Yahudi untuk menyapu lantai tanah pada hari Sabat. Meskipun seorang Yahudi tidak diperbolehkan melakukan hal ini pada hari Sabat, namun karena sebagian kalangan Rishonim (Rishonim = pemimpin rabi terkemuka dan otoritas hukum dalam Yudaisme yang hidup kira-kira antara abad ke-11 hingga ke-15) mengizinkan bahkan orang Yahudi untuk melakukan tugas tersebut, maka diperbolehkan meminta orang non-Yahudi untuk melakukannya [sebagaimana dijelaskan di atas]. Terlebih lagi, kekhawatiran mengenai kemungkinan meratakan bagian tanah yang cekung bukanlah karena seseorang mungkin melakukannya secara sengaja, melainkan karena hal itu akan menjadi akibat yang tak terelakkan dan tidak disengaja dari kegiatan menyapu tersebut (pesik reisha). Diperbolehkan meminta orang non-Yahudi untuk melakukan suatu tindakan yang disertai dengan akibat berupa pesik reisha [sebagaimana dijelaskan di atas].


6. Mengepel Lantai

Dilarang mengepel lantai rumah dengan air pada hari Sabat. Larangan ini ditetapkan karena dikhawatirkan orang akan terdorong untuk membasahi lantai tanah dengan air pada hari Sabat, yang dapat menyebabkan mereka meratakan bagian tanah yang cekung. Chazal (pemimpin Rabi dimasa lampau) tidak melarang kegiatan menyapu lantai pada hari Sabat (menurut Maran dalam Shulchan Aruch, sebagaimana disebutkan di atas) karena menyapu lantai merupakan kebutuhan yang lebih mendesak dibandingkan mengepelnya. Meskipun demikian, jika lantai menjadi kotor, diperbolehkan untuk menuangkan air pada bagian yang kotor tersebut dan singkirkan air menggunakan alat pembersih lantai karet. (Alat pembersih karet tidak menimbulkan masalah terkait tindakan memeras cairan sebagaimana halnya dengan kain lap; tentu saja, seseorang tidak boleh mengepel lantai menggunakan kain lap.) Demikian pula, diperbolehkan untuk menyapu atau menyingkirkan tumpahan cairan menggunakan alat pembersih karet tersebut. Diperbolehkan juga untuk menuangkan air ke atas meja dapur guna membersihkannya. Larangan mengepel lantai tidak berlaku untuk meja dapur.


7. Ketika Non-Yahudi mengepel lantai


Jika seseorang meminta seorang non-Yahudi untuk membersihkan lantai yang kotor dengan air, dan non-Yahudi tersebut menggunakan kain lap basah—sembari memerasnya saat melakukan pekerjaan itu—maka orang Yahudi tersebut tidak perlu memprotes tindakannya, meskipun tindakan memeras kain lap melanggar larangan hari Sabat yang ditetapkan dalam Taurat. Hal ini dikarenakan pekerjaan tersebut sebenarnya dapat diselesaikan menggunakan alat pembersih lantai karet. Dengan demikian, penggunaan kain lap oleh non-Yahudi tersebut merupakan inisiatifnya sendiri untuk mempermudah pekerjaan, bukan atas instruksi orang Yahudi tersebut.

8. Bermain kelereng dan sejenisnya di tanah

Anak-anak dilarang bermain permainan menggunakan biji-bijian, kelereng, dan sejenisnya di atas tanah yang tidak dilapisi semen. Larangan ini didasari kekhawatiran bahwa mereka mungkin akan meratakan bagian tanah yang cekung untuk membuat jalur tempat menggelindingkan biji-bijian atau kelereng tersebut. Menurut Maran dalam Shulhan Aruch (yang dikutip di atas), permainan semacam itu diperbolehkan jika dilakukan di atas permukaan lantai semen. Menurut Rema (yang dikutip di tempat yang sama), permainan tersebut diperbolehkan jika dilakukan di atas tikar atau permukaan meja. Saat ini, karena semua rumah sudah memiliki lantai keramik, semua pihak sepakat bahwa permainan ini boleh dilakukan di lantai di dalam ruangan. Namun demikian, permainan yang tujuannya adalah untuk mendapatkan benda milik pemain lain tidak boleh dimainkan pada hari Sabat karena hal tersebut menyerupai transaksi.


Anak-anak yang belum mencapai usia bar atau bat mitzvah boleh bermain bekel pada hari Sabat di atas lantai semen. Demikian pula, anak-anak boleh bermain lompat tali di permukaan lantai yang keras atau jalan beraspal. Namun, mereka tidak diperbolehkan bermain lompat tali di atas tanah lunak karena dikhawatirkan dapat meratakan permukaan tanah yang tidak rata.


9. Mengikis lumpur dari kaki

Diperbolehkan membersihkan lumpur dari sepatu atau kaki dengan cara menggosokkannya pada dinding atau lantai yang diperkeras (seperti lantai semen atau ubin). Namun, hal tersebut tidak boleh dilakukan pada permukaan tanah biasa, karena dikhawatirkan tindakan itu dapat meratakan cekungan pada tanah.

10. Memindahkan barang yang disimpan pada hari Sabat

Seseorang yang menyimpan sejumlah barang (misalnya, kotak-kotak berat berisi hasil bumi, tong, atau peti anggur) tidak boleh memindahkannya pada hari Sabat untuk tujuan apa pun yang tidak berkaitan dengan mitzvah. Ini berlaku bahkan untuk barang-barang yang bukan muktzeh, yang dapat dinikmati pada hari Sabat. (Larangan ini karena usaha yang dibutuhkan atau karena melakukannya memperlakukan hari Sabat sebagai hari kerja.) Namun, diperbolehkan untuk memindahkan barang-barang tersebut untuk tujuan yang berkaitan dengan mitzvah (misalnya, ketika seseorang membutuhkan ruang untuk tempat duduk tamu saat bersantap atau untuk tempat duduk murid saat mengikuti pelajaran Taurat). Jika terdapat banyak paket (kotak, karung, tong, dan sebagainya), seseorang hanya boleh memindahkan lima di antaranya. Jika hanya ada lima paket, seseorang hanya boleh memindahkan empat paket dan membiarkan paket kelima tetap di tempatnya. Bagaimanapun juga, seseorang tidak diperbolehkan memindahkan seluruh tumpukan kotak hingga lantai tanah terlihat, demi menghindari kemungkinan meratakan cekungan pada latai ruangan, diperbolehkan untuk memindahkan seluruh stok tersebut. 

11. Buang air di ladang yang sudah dibajak

Dilarang buang air di ladang yang sudah dibajak dan siap untuk ditanami pada hari Sabat. Hal ini dikarenakan seseorang mungkin akan meratakan bagian tanah yang cekung dengan cara melemparkan gumpalan tanah ke dalamnya. Jika ladang tersebut bukan milik sendiri, dilarang buang air di sana bahkan pada hari biasa, karena tindakan tersebut merusak ladang akibat menginjak-injak alur tanah.

12. Menggali kedalam makanan

Larangan menggali tidak berlaku untuk bahan makanan. Oleh karena itu, diperbolehkan mengambil gula atau bahan sejenisnya dari wadah, meskipun tindakan tersebut meninggalkan bekas cekungan. Demikian pula, seseorang boleh mengambil tembakau hisap bahkan dalam jumlah banyak sekaligus, meskipun hal itu meninggalkan bekas cekungan pada sisa tembakau tersebut.



Sumber : Buku Kitzur Sulchan Aruch Hazon Ovadiah hal.200-209
Tulisan ini didekasikan untuk Hilulah Rav.Ovadiah Yosef, z"tl. Tanggal 3 bulan Mar Cheshvan

Rivka Nessia



















Share:

SABAT

בס״ד 

Sabat


 

Hukum Sabat dalam Yudaism bisa dikatakan sangat kompleks, apabila kita tidak berhati-hati dalam segala larangan melakot (pekerjaan yang dilarang dilakukan pada hari Sabat) bisa dikatakan kita melanggar hukum Sabat chas ve shalom lo aleinu (Hashem melarang, jangan terjadi pada kita). Bila melanggar hukum Sabat hukumannya adalah dilempar batu hingga meninggal dan Kareit (jiwanya terpotong dari Sumber-Nya : apakah sumber jiwa kita? Hashem tentu, hukuman lempar batu tentu saja tidak dilakukan saat ini karena tidak ada Bait Suci tapi hukuman Kareit tentu saja masih berlaku karena itu tidak terlihat kasat mata hanya antara Anda dengan Hashem : Keluaran 31:14, Keluaran 35:2) Hukum Sabat ditujukan bagi orang-orang Yahudi, tidak dianjurkan untuk dilakukan bagi orang non Yahudi, selain karena hukumnya sangat kompleks, non Yahudi tidak diperintahkan oleh Hashem untuk melakukannya. 

Oleh karena begitu kompleks hukumnya, saya mempunyai perasaan ciut nyali dalam penulisan hukum Sabat. Sabat tidak hanya berbicara tentang hukum Melakot, juga banyak detail tentang persiapan hari Sabat, apa yang dilakukan selama hari Sabat, setelah Sabat berakhir. Selain itu ada juga hukum tentang Pikuach Nefesh (menyelamatkan kehidupan) dimana Anda dibolehkan untuk melanggar hukum Sabat bila sedang menyelamatkan nyawa dalam bahaya. Juga terdapat hukum Muktzeh (larangan memindahkan barang tertentu) pada hari Sabat. Hukum tentang larangan meminta non Yahudi untuk melakukan suatu melakah (mempunyai arti karena kita dilarang untuk melakukan melakah tertentu maka kita minta tolong non Yahudi untuk melakukannya biasanya kita sebut Amira L'Akum), larangan memainkan alat musik pada hari Sabat, larangan menghasilkan uang pada hari Sabat meskipun itu diluar Melakot, tentu saja dilarang melakukan bisnis di hari Sabat, larangan membaca sesuatu yang biasa kita baca dihari-hari kerja seperti majalah dengan iklan, surat kabar, surat dari pak pos, dll. Larangan mengukur baik timbangan, dan sejenisnya, Larangan mandi dengan air hangat di hari Sabat, Larangan menggunakan deodorant di hari Sabat diperbolehkan menggunakan parfum pada kulit tubuh tapi dilarang disemprotkan pada pakaian. 

Anda mungkin berfikir, aduh mengapa harus repot dengan semua larangan ini? bukankah itu tidak tertulis di Alkitab, mungkin Anda berfikir ini hanya karangan Rabi-rabi saja, ya tentu saja Hashem memerintahkan kita untuk tidak melakukan 39 melakot Sabat, apakah itu yang dimaksud dengan 39 Melakot Sabat? 39 melakhot adalah kategori utama pekerjaan kreatif yang dilarang secara Alkitabiah pada hari Sabat. Kategori-kategori ini diturunkan dari aktivitas yang diperlukan untuk membangun Mishkan (Kemah Suci/Tabernakel) di padang gurun. Ketika Bnei Israel dipadang gurun dan diperintahkan untuk membangun Kemah Suci, Hashem memerintahkan untuk berhenti bekerja membangun Kemah Suci pada hari Sabat, maka hingga saat ini kita tetap menjaga untuk tidak melakukan segala pekerjaan yang dilakukan pada saat di padang gurun yang kita sebut 39 Melakot.

Saat ini saya akan berfokus hanya pada 39 Melakot Sabat, jika memungkinkan saya akan membagikan semua larangan pada hari Sabat bli neder. Karena begitu kompleks dan rumit hukum hari Sabat dibutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk berbagi disini, bukan berarti saya ahli dalam tulisan ini dengan berbagi tulisan ini saya sendiri berharap belajar lebih dalam lagi. Saya harap Anda bersabar dalam membaca bagi yang mempunyai hobi membaca, saya akan bagikan disini per melakah, karena zaman telah berubah dari hobi membaca, audience lebih tertarik kepada gambar visual video.

Apa saja 39 Melakot?

1. Choresh (Membajak)

2. Zoreah (Menabur/Menanam)

3. Kotzair (Memanen/Memotong)

4. Me'amer (Mengmpulkan/Mengikat)

5. Dosh (Merontokkan)

6. Zoreh (Mengipasi/Mengirik)

7. Borer (Memilah/Memisahkan)

8. Token (Menggiling)

9. Merakeid (Mengayak)

10. Lash (Menguleni)

11. Bisul (Memanggang/Memasak)

Anda mungkin bertanya apa hubungan ke-11 Melakot diatas dengan pembangunan Kemah Suci? 11 Melakot diatas adalah berhubungan dengan pembuatan roti, didalam Kemah Suci, terdapat Meja Sajian yang diatasnya diharuskan diletakkan 12 bongkah roti. Maka 11 Melakot diatas berhubungan dengan pembuatan roti, dan diharuskan untuk beristirahat 11 Melakot di hari Sabat.

12. Gozez (Mencukur/Memotong bulu)

13. Melabain (Memutihkan/Mencuci)

14. Menapetz (Mengurai/Menyisir)

15. Tzoveya (Mewarnai)

16. Toveh (Memintal)

17. Meisach (Memasang benang pada alat pintal)

18. Oseh Shtei Batei Nirin (Membuat dua simpul)

19. Oreig (Menenun)

20. Potzea (Menguraikan/Memisahkan benang)

21. Kosheir (Mengikat simpul)

22. Matir (Melepas simpul)

23. Tofair (Menjahit)

24. Koreah (Merobek)

Ke-13 Melakot diatas berhubungan dengan pembuatan kain, bila Anda bertanya apa hubungannya dengan pembuatan Kemah Suci? Jawaban atas pertanyaan ini adalah kain ini diperlukan untuk tirai atau gorden dari Kemah Suci.

25. Tzod (Menjebak)

26. Sochet (Menyembelih)

27. Mafshit (Menguliti)

28. Me'abaid (Menyamak)

29. Memachaik (Menghaluskan)

30. Mesairtait (Menggambar garis)

31. Mechateich (Memotong/Membentuk)

Ke-7 Melakot diatas berhubungan dengan pembuatan tirai atau gorden Kemah Suci terbuat dari kulit binatang.

32. Kotaiv (Menulis)

33. Mochaik (Menghapus)

Dua melakot diatas berhubungan dengan tiang dari Kemah Suci

34. Boneh (Membangun)

35. Sotair (Meruntuhkan)

Dua Melakot diatas sangat jelas berhubungan dengan Memasang dan membongkar Kemah Suci

36. Mechabeh (Memadamkan api)

37. Mavir (Menyalakan api)

38. Makeh Bepatish (arti secara harafiah memukul dengan palu)

39. Hotza'ah (Trasfer/Memindahkan)

Empat Melakot diatas adalah berhubungan sentuhan akhir pembuatan Kemah Suci.

Demikianlah 39 Melakot yang dilarang dilakukan pada hari Sabat, saya akan berusaha menjelaskan satu persatu Melakah diatas semoga bermanfaat bagi pembaca. (Bersambung....Melakah 1)


Rivka Nessia



Share:

Hillel Tetua Orang Yahudi

 ×‘ס״ד


(foto bukan Hillel tetua yang sebenarnya, hanya ilustrasi dari AI)


Hillel Tetua Orang Yahudi (lahir akhir abad ke-1 SM) 

Rabi Levi berkata: Di Yerusalem ditemukan sebuah gulungan silsilah yang di dalamnya tertulis, "Hillel berasal dari garis keturunan Daud."

1. Hillel dan Shebna bersaudara. Hillel mempelajari Taurat [dalam kemiskinan yang parah], sementara Shebna berdagang [dan berhasil]. Akhirnya [setelah Hillel menjadi terkenal] Shebna berkata kepada Hillel, "Mari, kita bermitra dan berbagi [keuntungan]. " Sebuah suara ilahi menyatakan, "Jika orang ini memberikan seluruh harta benda rumahnya karena cinta (Taurat, yang sekarang ia anut), ia akan dihina sepenuhnya" (Kidung Agung 8:7), 

2. Dilaporkan tentang Hillel Tetua bahwa setiap hari ia bekerja dan mendapatkan satu tropaik (setengah dinar), yang setengahnya akan ia berikan kepada penjaga rumah belajar: setengahnya lagi digunakan untuk membeli makanan bagi dirinya sendiri dan anggota keluarganya. Suatu hari ia tidak dapat memperoleh apa pun, sehingga penjaga rumah belajar tidak mengizinkannya masuk. Ia kemudian naik ke atap.  dan bertahan, duduk di atas bukaan jendela atap, sehingga ia dapat mendengar firman Hashem yang hidup dari mulut Shemaiah dan Avtalion. Konon, hari itu adalah malam menjelang Sabat di titik balik matahari musim dingin, dan salju turun menimpanya dari langit. Ketika fajar menyingsing, Shemaiah berkata kepada Avtalion, "Saudara Avtalion, setiap hari rumah ini terang benderang, tetapi hari ini gelap. Apakah hari ini mendung?" Ketika mereka mendongak, mereka melihat sosok seorang pria di jendela atap. Mereka naik ke atap dan menemukan Hillel, tertutup salju setebal tiga hasta. Mereka membersihkan salju darinya, memandikannya, dan mengurapinya, dan, sambil mendudukkannya di depan api unggun, mereka berkata, "Orang ini pantas menodai hari Sabatnya."(Sabat bisa dilanggar untuk menyelamatkan nyawa manusia, Yoma 35b dan En Yaakov)

3. Para guru kami mengajarkan: Pada suatu ketika, tanggal 14 Nisan jatuh pada hari Sabat dan orang Bene Betera (Chasal dari Yudea yang berada di pucuk pimpinan setelah kematian Shemaiah dan Avtalion sampai pengangkatan Hillel sebagai patriark) melupakan hukum Taurat, sehingga mereka tidak tahu apakah mempersembahkan domba Paskah membatalkan Sabat atau tidak. Mereka bertanya, "Adakah yang tahu apakah domba Paskah membatalkan Sabat?" Mereka diberi tahu, "Ada seseorang yang datang dari Babilonia. Ia dikenal sebagai Hillel, orang Babilonia. Karena ia melayani dua orang terkemuka dari generasi itu, Semaya dan Avtalion, ia pasti tahu apakah mempersembahkan domba Paskah membatalkan Sabat atau tidak." Maka mereka memanggilnya dan bertanya, "Tahukah engkau apakah domba Paskah membatalkan Sabat atau tidak?" Ia menjawab, "Apakah kita hanya memiliki satu domba—domba yang dipersembahkan pada Paskah—yang dapat membatalkan Sabat? Bukankah kita sebenarnya memiliki lebih dari dua ratus domba Paskah yang disebut-sebut sepanjang tahun yang membatalkan Sabat?" (domba yang dipersembahkan pada pagi dan sore hari selama lima puluh hari Sabat dalam setahun ditambah dua persembahan harian tambahan pada hari Sabat berjumlah lebih dari dua ratus dalam setahun)  Orang Bene Betera terkejut dan bertanya, "Bagaimana Anda bisa membuat pernyataan seperti itu?" Dia menjawab, "Sehubungan dengan dengan domba Paskah, Kitab Suci menetapkan bahwa itu harus dipersembahkan 'pada waktu yang ditentukan [Bilangan 9:2), dan sehubungan dengan [analoginya] domba harian, Kitab Suci juga menetapkan bahwa itu harus dipersembahkan 'pada waktu yang ditentukan' [Bilangan 28:2] - sebagaimana "waktu yang ditentukan" yang dikatakan sehubungan dengan domba harian melibatkan mengesampingkan Sabat, "waktu yang ditentukan" yang dikatakan sehubungan dengan domba Paskah melibatkan mengesampingkan Sabat. Selain itu, ada argumen spesial: jika domba harian, yang kelalaiannya tidak dihukum dengan pemotongan, mengesampingkan Sabat, maka bukankah domba Paskah, yang kelalaiannya dihukum dengan pemotongan, tanpa pertanyaan mengesampingkan Sabat? Segera Hillel ditempatkan paling depan di rumah belajar dan diangkat menjadi patriark atas mereka, dan sepanjang sisa hari itu dia duduk dan memberi kuliah tentang hukum-hukum Paskah.  Dalam sambutannya, ia tergerak untuk menegur orang-orang Yerusalem, dengan mengatakan, "Siapa gerangan yang menyebabkan aku datang dari Babilonia dan diangkat menjadi bapa leluhur atas kamu? Karena kemalasanmu sendiri, kamu tidak melayani kedua orang terkemuka dari generasi itu, Semaya dan Avtalion, yang tinggal di tengah-tengahmu." Begitu ia menegur mereka, jawaban atas pertanyaan dalam Kitab Hukum Taurat disembunyikan darinya, sehingga ketika mereka bertanya kepada-Nya, "Guru, apa aturannya jika seseorang lupa membawa pisau pada malam Sabat?" ia terpaksa menjawab, "Aku telah mendengar jawaban atas pertanyaan ini tetapi lupa. Tetapi percayalah kepada orang Israel: jika mereka sendiri bukan nabi, mereka adalah keturunan para nabi!" Sungguh, keesokan harinya, orang yang mempersembahkan domba Paskah menancapkan pisau di bulunya; orang yang mempersembahkan kambing Paskah mengikatkan pisau di antara tanduknya! (dan dengan demikian terhindar dari keharusan membawa pisau pada hari Sabat)  Ketika Hillel mengetahui apa yang sedang dilakukan, dia mengingat Halakhah dan berkata, Apa yang dilakukan orang-orang ini sejalan dengan tradisi yang saya terima dari mulut Shemaiah dan Avtalion. (Masechet Pesach 66a dan En Yaakov, M.Pesach 6:1,33a)

4. Para guru kami mengajarkan: Pernah terjadi dua orang bertaruh, sepakat bahwa siapa pun yang mampu membangkitkan amarah Hillel akan memenangkan empat ratus zuz. Maka salah satu dari mereka berkata, "Aku akan pergi [lebih dulu] dan membangkitkan amarahnya." Karena hari masih sebelum Sabat, Hillel sedang mencuci kepalanya. Pria itu pergi, melewati pintu rumah Hillel, dan berseru, "Apakah ada Hillel di sini? Apakah ada orang bernama Hillel di sekitar sini?" Hillel mengenakan jubahnya dan keluar menemuinya, sambil berkata, "Anakku, apa yang kauinginkan?" *Aku punya pertanyaan untuk ditanyakan.* "Tanyakan, anakku, tanyakan." "Mengapa kepala orang Babilonia berbentuk bulat?" *"Anakku, kau telah mengajukan pertanyaan yang cukup panjang. Jawabannya adalah bidan-bidan mereka tidak terampil." Pria itu pergi, menjauh sebentar, lalu kembali, berseru, "Apakah ada Hillel di sini?  Apakah ada orang bernama Hillel di sini?" Hillel kembali menarik jubahnya dan keluar menemuinya, berkata, "Anakku, apa yang kauinginkan?* *Aku punya pertanyaan." *Tanyakan, anakku, tanyakan." "Mengapa mata orang-orang Palmyra sayu?" *"Anakku, kau telah menanyakan pertanyaan yang cukup panjang. Jawabannya adalah mereka tinggal di negeri berpasir [yang disapu angin]. Orang itu pergi, menjauh sebentar, lalu kembali lagi, berseru, "Apakah ada Hillel di sini? Apakah ada orang bernama Hillel di sekitar tempat ini?" Sekali lagi Hillel mengenakan jubahnya dan keluar menemuinya, berkata, "Anakku, apa yang kau inginkan?" Aku punya pertanyaan.* "Tanyakan, anakku, tanyakan." Mengapa kaki orang-orang Etiopia begitu lebar?" "Anakku, kau telah menanyakan pertanyaan yang cukup panjang. Jawabannya adalah mereka tinggal di rawa-rawa berair." "Aku punya banyak pertanyaan," kata orang itu, tetapi aku takut kau akan marah [kepadaku].  Mendengar itu, Hillel melilitkan jubahnya, duduk di hadapan pria itu, dan berkata, "Semua pertanyaan yang ingin kau tanyakan, silakan saja." Pria itu: "Apakah kau Hillel yang disebut bapa bangsa Israel?" Hillel: "Ya." Pria itu: "Jika kaulah orangnya, semoga tidak banyak orang sepertimu di Israel." Hillel: "Mengapa, anakku?" Pria itu: "Karena gara-gara kau aku baru saja kehilangan empat ratus zuz." Hillel: "Tenangkan dirimu. Kehilangan empat ratus zuz, dan bahkan tambahan empat ratus zuz, sepadan, [karena kau telah belajar bahwa, apa pun provokasinya], Hillel tidak akan kehilangan kesabarannya." (Masechet Shabbat 30b-30a)

5. Para guru kami mengajarkan: Suatu ketika seorang atheist datang menghadap Shammai dan bertanya kepadanya, "Berapa banyak Taurat yang kau miliki?" "Dua," jawabnya, "Taurat Tertulis dan Taurat Lisan." "Aku akan percaya padamu tentang Taurat Tertulis, tetapi tidak tentang Taurat Lisan. Terimalah aku sebagai seorang convert, dengan syarat kau hanya mengajarkan Taurat Tertulis kepadaku." Sebagai tanggapan, Shammai memarahinya dan dengan marah memerintahkannya untuk keluar. Ketika ia menghadap Hillel, Hillel menerimanya sebagai seorang convert. Pada hari pertama ia mengajarkan huruf-huruf alfabet secara berurutan: Alef, bet, gimmel, dalet [dan seterusnya hingga tav]. Keesokan harinya ia membalik urutan huruf-huruf tersebut. "Tetapi kemarin kau tidak mengajarkannya kepadaku dalam urutan ini," protes orang atheist itu. "Bukankah aku yang harus kau andalkan untuk mengetahui urutan huruf yang benar dalam alfabet? Maka kau juga harus bergantung padaku untuk keabsahan Taurat Lisan."  Pada kesempatan lain, seorang atheist datang menghadap Shammai dan berkata kepadanya, "Terimalah aku sebagai seorang convert, tetapi dengan syarat engkau mengajarkan kepadaku seluruh Taurat, semuanya, sementara aku berdiri dengan satu kaki." Shammai langsung mengusirnya dengan tongkat pengukur tukang bangunan yang kebetulan ada di tangannya. Ketika orang atheist datang menghadap Hillel, Hillel berkata kepadanya, "Apa yang kau benci, jangan lakukan kepada sesamamu. Inilah seluruh Taurat, semuanya; sisanya hanyalah tafsiran. Pergi dan pelajarilah." Pada kesempatan lain, seorang atheist yang lewat di belakang sinagoge mendengar suara seorang guru membacakan, "Dan inilah pakaian yang harus mereka buat: tutup dada dan efod" (Keluaran 28:4).Ia bertanya: *Untuk siapakah semua ini ditujukan?" Ia dijawab, "Untuk imam besar." Orang atheist itu berkata dalam hatinya: Aku akan pergi dan menjadi convert agar aku dapat diangkat menjadi imam besar. Ia menghadap Samai dan berkata kepadanya, "Terimalah aku sebagai convert, dengan syarat engkau mengangkatku menjadi imam besar." Samai segera mengusirnya dengan tongkat pengukur tukang bangunan yang kebetulan ada di tangannya. Ketika orang atheist itu menghadap Hillel, Hillel mengangkatnya menjadi convert, tetapi kemudian bertanya, "Apakah seorang raja diangkat jika ia tidak mengetahui seluk-beluk pemerintahan? Pergilah sekarang dan pelajari seluk-beluk pemerintahan [Bait Suci]!" Orang atheist yang baru itu pergi dan membaca Kitab Suci. Ketika ia sampai pada ayat "Orang awam yang datang mendekat harus dihukum mati" (Bilangan 1:51), ia bertanya kepada Hillel, "Untuk siapa ayat ini berlaku?" Bahkan kepada Daud, raja Israel.  Mendengar itu, orang convert itu mengajukan argumen yang lebih tepat kepada dirinya sendiri: Israel disebut anak-anak-Nya yang sungguh ada di mana-mana, Dia menyebut mereka sebagai "Israel, anak sulung-Ku" (Keluaran 4:22) karena kasih-Nya kepada mereka. Namun tentang mereka tertulis, "Orang awam yang datang mendekat akan dihukum mati." Tentu saja, betapa lebih dan lebih lagi kata-kata ini berlaku bagi seorang convert rendahan, yang datang dengan tongkat dan tas bahunya! Lalu ia pergi menghadap Samai dan berkata kepadanya, "Mungkinkah aku memenuhi syarat untuk menjadi imam besar? Bukankah tertulis dalam Taurat, 'Orang awam yang datang mendekat akan dihukum mati'?" Selanjutnya, ia pergi menghadap Hillel dan berkata kepadanya, "Wahai Hillel yang lembut, semoga berkat tercurah atas kepalamu karena telah membawaku di bawah sayap Hadirat!"  Beberapa waktu kemudian, ketika ketiga orang atheist yang disebutkan tadi bertemu di suatu tempat, mereka berkata, "Kekerasan Shammai hampir saja mengusir kami dari dunia [yang akan datang], tetapi kelembutan Hillel membawa kami di bawah naungan Kehadiran." [Oleh karena itu, kata para bijak]: Seseorang harus selalu sefleksibel Hillel, bukan sekaku Shammai. (Masechet Shabbat 31a)

6. "Orang yang berbuat baik kepada dirinya sendiri adalah orang yang saleh" (Ams. 11:17), sebagaimana dapat disimpulkan dari apa yang pernah dikatakan Hillel Sang Penatua. Setelah menyelesaikan sesi belajar dengan murid-muridnya, ia terus berjalan bersama mereka. Murid-muridnya bertanya kepadanya, "Guru, ke mana Engkau pergi?" Ia menjawab, "Untuk melakukan suatu perintah." "Perintah apa?" Ia menjawab, "Untuk mandi di pemandian." "Tetapi apakah ini merupakan perintah?" "Memang. Patung-patung raja yang didirikan di teater dan sirkus harus digosok dan dicuci oleh seorang pria yang ditunjuk khusus untuk merawatnya, yang menerima pemeliharaan untuk pekerjaan tersebut. Lebih dari itu—ia dihormati sebagai salah satu bangsawan kerajaan.  Betapa lebih lagi dan lebih lagi aku dituntut untuk membersihkan dan membasuh diriku, aku yang telah diciptakan menurut gambar dan rupa Hashem —aku, yang tentangnya tertulis, "Menurut gambar Hashem  menjadikan manusia!" (Kej. 9:6). Penjelasan lain: "Barangsiapa berbuat baik kepada dirinya sendiri adalah orang yang saleh," sebagaimana dapat disimpulkan dari apa yang pernah dikatakan Hillel Sang Penatua. Setelah menyelesaikan sesi belajar dengan murid-muridnya, ia berjalan bersama mereka. Murid-muridnya bertanya kepada-Nya, "Guru, ke mana Engkau pergi?" Ia menjawab, "Untuk berbuat baik kepada tamu di rumahku. Kata mereka. *Sepertinya kau kedatangan tamu setiap hari." Ia menjawab, "Bukankah jiwaku yang malang adalah tamu di tubuhku—hari ini di sini, dan besok tak lagi di sini?" 

7. Dikisahkan tentang Hillel Tetua bahwa, untuk seorang pria miskin dari keluarga baik-baik, ia menyewa seekor kuda untuk ditunggangi dan seorang budak untuk berlari di depannya. Suatu ketika, ketika ia tidak dapat menemukan seorang budak untuk berlari di depannya, ia sendiri berlari di 8depannya sejauh tiga mil. 

8. Pada suatu ketika, Hillel yang Tua menyiapkan makanan untuk seorang pria. [Sebelum mereka dipersilakan duduk] seorang pria miskin datang, berdiri di depan pintu Hillel, dan berkata, "Aku dijadwalkan menikah hari ini dan tidak punya bekal apa pun." Mendengar itu, istri Hillel mengambil seluruh makanan dan memberikannya kepada pria miskin itu [tanpa memberi tahu suaminya]. Kemudian ia menguleni adonan segar, memasak sepanci rebusan lagi, dan, ketika sudah siap, menyajikannya di hadapan Hillel dan tamunya.  Hillel bertanya, "Sayangku, mengapa kamu tidak membawanya lebih awal?" Wanita itu menceritakan apa yang terjadi. Hillel berkata, "Sayangku, ketika bertanya tentang keterlambatan ini, aku bermaksud menghakimimu bukan berdasarkan skala kesalahan, melainkan skala jasa, karena aku yakin bahwa semua yang kamu lakukan, kamu lakukan demi Surga." 

9. Para guru kita mengajarkan: Suatu ketika, Hillel Tetua, ketika kembali dari perjalanan, mendengar tangisan kesedihan di kota dan berkata dalam hatinya: Aku yakin bahwa tangisan ini tidak berasal dari rumahku. Baginya diterapkan kata-kata "Ia tidak akan takut akan kabar buruk; hatinya teguh, percaya kepada Tuhan" (Mzm. 12:7).

10, Ketika Taurat dilupakan di Israel, Ezra datang dari Babel dan menegakkannya kembali. (Beberapa dari] Taurat dilupakan lagi, dan Hillel orang Babel datang dan dia juga menegakkannya kembali. Hillel datang dari Babel pada usia empat puluh tahun melayani orang bijak selama empat puluh tahun, dan membimbing Israel selama empat puluh tahun. Dikatakan tentang Hillel bahwa tidak ada kata-kata orang bijak yang dia sisihkan dan tidak pelajari. Kemudian, juga, [dia mempelajari] semua bahasa, bahkan bahasa gunung, bukit, dan lembah; tentang pohon dan tumbuhan; tentang binatang buas, liar dan jinak; dan tentang setan; serta perumpamaan tentang penabur dan [fabel] rubah. 

11. Guru kami mengajarkan: Hillel Tetua memiliki delapan puluh murid. Tiga puluh dari mereka layak untuk memiliki Kehadiran Hashem beristirahat atas mereka, seperti yang terjadi pada Musa guru kami. Tiga puluh layak untuk memiliki matahari berhenti bagi mereka, seperti yang terjadi pada Yosua putra Nun;  dan dua puluh sisanya memiliki tingkat kompetensi yang lebih moderat. Yang tertua adalah Jonathan ben Uzziel; yang termuda adalah Rabban Yohanan ben Zakkai.

12 Suatu ketika, ketika Hillel jatuh sakit, semua muridnya datang mengunjunginya, tetapi Rabban Yohanan ben Zakkai tetap tinggal di halaman. Hillel bertanya, "Di mana yang termuda di antara kalian, yang adalah bapa kebijaksanaan, bapa generasi, dan, tentu saja, yang paling terkemuka di antara kalian?" Mereka menjawab, "Dia ada di halaman." Hillel: "Biarkan dia masuk." Ketika dia masuk, Hillel berkata kepada murid-muridnya, "Untuk orang ini terapkan kata-kata 'Aku [Taurat] akan mewarisi harta benda orang-orang yang mengasihi Aku, dan Aku akan memenuhi perbendaharaan mereka'" (Ams. 8:21) 

13. Para guru kita mengajarkan: Setelah kematian para nabi terakhir, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, roh kudus meninggalkan Israel; namun mereka masih dilayani oleh suara ilahi.  Suatu ketika, ketika para rabi berkumpul di ruang atas rumah Guria di Yerikho, sebuah suara ilahi terdengar di atas mereka dari surga, berkata, "Ada satu di antara kalian yang layak menerima Hadirat-Nya sebagaimana yang terjadi pada Musa, guru kita, tetapi generasinya tidak pantas menerimanya." Para orang bijak memandang Hillel Tetua. Ketika ia meninggal, mereka meratap dan berkata, "Celakalah orang saleh, celakalah orang yang rendah hati, murid Ezra [tidak ada lagi]!”


Rivka Nessia


Sumber : Buku Aggadah halaman 206


Share:

Rabbi Shimon ben Shetah, Zt'l

בס״ד


(mohon maaf dengan gambar foto diatas, sebelah kiri bawah seperti ada tanda tangan pembuat lukisan diatas, foto diatas bukanlah karya siapapun tetapi hanyalah karya AI bukan foto asli dari Rabbi Shimon ben Shetah, Zt'l tetapi hanyalah ilustrasi dari penulis tentang beliau.)

Rabbi Shimon ben Shetah, Zt'l

Rabbi Shimon ben Shetah,Zt'l adalah Chazal (Rabi bijak Israel) yang termasuk dalam zaman Zugot (baca tulisan sebelumnya tentang Chazal untuk mengerti lebih jauh). Beliau adalah Guru dalam hal Hukum Yahudi dan presiden Sanhedrin selama masa pemerintahan Alexander Jannæus dan penggantinya, Ratu Alexandra (Salome). Shimon adalah saudara ratu (Berachot 48a), dan karena itu berhubungan erat dengan istana, menikmati dukungan Alexander. Selama masa pemerintahan penguasa ini, Sanhedrin hampir seluruhnya terdiri dari orang Saduki, Shimon menjadi satu-satunya orang Farisi; meskipun demikian ia berhasil mengusir anggota Saduki dan menggantinya dengan orang Farisi. Setelah berhasil melakukan ini, Shimon memanggil kembali dari Alexandria orang-orang Farisi yang telah dipaksa untuk mencari perlindungan di sana selama masa pemerintahan John Hyreanus, di antara para buronan ini adalah Yoshua ben Peraḥyah, mantan presiden perguruan tinggi (Soá¹­ah 47a, ed. Amsterdam; bandingkan juga Yer. Sanhendrin 23c dan Ḥagiga 41d). Yoshua terpilih kembali sebagai presiden, dan Shimon menjabat sebagai wakil presiden ("av bet din"; lihat Weiss, "Dor," i. 135, catatan 1). Setelah Yoshua meninggal, Simeon menjadi presiden dan Judah ben Ṭabbai menjadi wakil presiden. 

Penulis mengutip beberapa cerita tentang Rabbi Shimon ben Shetah, Zt'l :

  1. Setelah Raja Yannai/Jannaeus (raja Hasmonean 103-76 SM) membantai orang bijak, dunia menjadi sunyi sepi. sampai Rabbi Shimon ben Shetah mulai dan memulihkan Taurat ke kejayaannya yang murni. (dia bertanggung jawab untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak dari usia lima atau enam tahun) 
  2. Tiga ratus orang Nazir datang [ke Yerusalem] pada zaman Rabbi Simeon ben Shetah dan berusaha membawa sembilan ratus persembahan.(Pada akhir masa Nazirnya, seorang Nazir diharapkan membawa seekor domba jantan untuk korban bakaran, seekor domba betina untuk korban penghapus dosa, dan seekor domba jantan untuk korban keselamatan. Lihat Bilangan 6:14.) Untuk seratus lima puluh orang Nazir, dia menemukan alasan untuk absolusi: (Dari nazar Nazir. Karena absolusi tersebut berlaku surut, seolah-olah mereka tidak pernah menjadi Nazir dan karenanya tidak berkewajiban untuk membawa persembahan.) tetapi untuk seratus lima puluh lainnya, dia tidak menemukan alasan seperti itu. Kemudian dia pergi ke Raja Yannai dan berkata kepadanya: Tiga ratus orang Nazir telah datang, dan mereka mencari sembilan ratus (Karena seratus lima puluh orang dibebaskan dari nazar mereka, Rabbi Shimon sebenarnya hanya membutuhkan setengah dari jumlah yang dimintanya untuk dibayar oleh raja. Dengan memintanya untuk menyumbang setengah dari sembilan ratus, Rabbi Shimon sebenarnya meminta raja untuk menanggung seluruh proyek tersebut.) Persembahan, yang tidak mampu mereka beli. Bolehkah saya sarankan agar Anda menyediakan setengah dari kemampuan Anda, dan saya akan menyediakan setengah lainnya dari kemampuan saya, sehingga mereka dapat membawa persembahan yang dibutuhkan.  Raja Yannai menyediakan setengah dari hartanya, dan persembahan pun dibawa. Namun, beberapa orang kemudian datang kepada Raja Yannai dan memberi tahu tentang Rabbi Shimon ben Shetah, dengan mengatakan: "Ketahuilah bahwa apapun yang dipersembahkan hanyalah persembahan dari hartamu sendiri, karena Shimon ben Shetah tidak memberikan apa pun dari hartanya sendiri." Mendengar hal itu, Raja Yannai menjadi sangat marah. Ketika Rabbi Shimon ben Shetah mendengar bahwa raja marah kepadanya, ia langsung lari ketakutan. Tak lama kemudian, beberapa bangsawan dari kerajaan Persia, yang sedang makan di meja Raja Yannai, berkata kepadanya, "Tuan Raja kami, kami ingat bahwa dulu ada seorang pria terhormat di sini yang menghibur kami dengan kata-kata bijak. [Kami merindukannya.]" Yannai berkata kepada istrinya, saudara perempuan Rabbi Shimon. "Panggil dia untuk kembali." Istrinya menjawab, "Bersumpahlah kepadaku bahwa kau tidak akan membuatnya tertekan, dan kirimkan cincin meteraimu kepadanya agar dia merasa aman untuk datang."  Ia bersumpah padanya dan mengirimkan cincinnya kepada Rabbi Shimon, yang segera kembali. Raja bertanya, "Mengapa kau melarikan diri?" Rabbi Shimon menjawab, "Aku mendengar bahwa tuanku raja marah kepadaku dan aku takut engkau akan menghukum mati aku, maka aku mengikuti nasihat dalam ayat "Bersembunyilah sebentar saja, sampai murka itu berlalu" (Yesaya 26:20). Raja bertanya, "Mengapa kau mempermalukan aku?" Rabbi Shimon menjawab, "Astaga! Aku tidak bermaksud mempermalukanmu. Kau menyumbangkan bagianmu dari kekayaanmu dan dari banyak Taurat, hikmatku."  Demikianlah dikatakan, Karena hikmat menaungi (dengan cuma-cuma kepada mereka yang mencari kelegaan dari terik matahari). seperti kekayaan menaungi" (Pengkotbah. 7:12). "Tetapi mengapa kau tidak memberitahuku?" "Seandainya aku memberitahumu, kau tidak akan memberikan kontribusi." Yannai mendudukkan Rabbi Shimon di antara dirinya dan ratu, dan berkata, "Lihatlah kehormatan apa yang kuberikan kepadamu." Rabbi Shimon menjawab, "Bukan kau yang menghormatiku—melainkan Taurat yang menghormatiku, seperti yang dikatakan Ben Sira: Tinggikanlah dia dan dia akan mengangkatmu tinggi, dan membuatmu duduk di antara orang-orang besar" (Amsal 4:8 dan Pengkotbah 11:1). Yannai berkata kepada ratunya, "Kaulihat dia masih tidak menerima otoritas [ku]." Tak lama kemudian dia memberi Rabbi Shimon secangkir anggur untuk mengucapkan doa berkat (meskipun ia tidak ikut makan) Rabbi Shimon berkata, "Bagaimana aku harus mengucapkan doa? Haruskah aku berkata, 'Terberkatilah Dia yang rezekinya Yannai dan teman-temannya telah  "Makan'?" Yannai berkata, "Kau terus saja menentang. Belum pernah kudengar nama Yannai dimasukkan dalam doa syukur." Rabbi Shimon: Apa yang kau harapkan dariku? |Lazimnya] Marilah kita berdoa untuk apa yang telah kita makan'? [Bagaimana mungkin aku], karena aku belum makan?" Maka makanan pun dibawakan kepadanya, yang dimakannya, lalu ia mengucapkan doa berkat [seperti lazimnya], "Untuk apa yang telah kita makan.(Bereshit Raba 91:3, Berachot 48a, 7:2, 11b)
  3. Salah satu budak Raja Yannai membunuh seorang pria.  Rabbi Shimon ben Shetah berkata kepada orang bijak, "Lihatlah [dengan berani] kepadanya dan mari kita duduk untuk mengadilinya." Maka mereka mengirim kabar kepada raja. "Budakmu telah membunuh seseorang." Raja mengirimnya kepada mereka [untuk diadili]. Namun mereka kembali mengirim kabar kepada raja, "Engkau juga harus datang ke sini," karena Taurat mengatakan, jika peringatan telah diberikan kepada pemiliknya [Keluaran 21:29]. Artinya, jika seekor lembu telah melakukan kerusakan, pemiliknya harus datang dan berdiri di samping lembunya (pemilik bertanggung jawab atas budaknya, karena status hukumnya adalah sebagai barang). Raja datang, dipersilakan duduk di sebelah Rabbi Shimon ben Shetah, dan duduk. Kemudian Rabbi Shimon ben Shetah berkata, "Berdirilah, Raja Yannai, dan biarkan para saksi bersaksi melawanmu." Raja menjawab, "Aku akan melakukannya" bukan ketika engkau mengatakannya, tetapi ketika rekan-rekanmu mengatakannya. Rabbi Shimon menoleh ke kanan, dan mereka melihat ke bawah ke tanah. Rabbi Shimon ben Shetah berkata kepada  mereka, kalian tampak tenggelam dalam pikiran yang mendalam. Biarlah Sang Penguasa pikiran manusia datang dan membalas kalian." Gabriel segera turun dan menghantam mereka ke tanah, sehingga jiwa mereka meninggalkan mereka. Sang raja tampak terguncang. Rabbi Shimon ben Shetah berkata kepadanya sekali lagi, "Berdirilah tegak di atas kakimu dan biarkan para saksi bersaksi melawanmu. Engkau berdiri bukan di hadapan kami, melainkan di hadapan Dia yang berfirman dan dunia dijadikan, seperti yang dikatakan, 'Kedua orang yang berselisih itu harus berdiri di hadapan Tuhan'" (Ulangan 19:17). Mendengar itu, Raja Yannai pun berdiri. 
  4. Dikisahkan tentang Rabbi Shimon ben Shetah bahwa ia pernah membeli seekor keledai dari seorang Ismael.  Ketika murid-muridnya datang, mereka menemukan sebuah permata tergantung di leher keledai itu dan berkata kepadanya, "Guru, berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya" (Amsal 10:22). Rabbi Shimon bin Shetah menjawab, "Aku membeli seekor keledai, aku tidak membeli batu permata." Ia pergi dan mengembalikan permata itu kepada orang Ismael itu, yang kemudian selalu berkata, "Terpujilah Hashem, Tuhan Shimon bin Shetah." (Devarim Raba 3:3) 
Empat tulisan diatas, bebarapa kejadian yang sempat terekam (tercatat) didalam buku Aggadah, semoga dapat menambah wawasan Anda.

Rivka Nessia

Sumber :
1. Buku Aggadah halaman 200
2. Jewish Encyclopedia website





Share:

Kategori

Kehidupan Setelah Kematian

Konser Musik Yahudi

Video Belajar Taurat

Kebahagiaan di Bulan Adar

Pages